86400 detik

Dari 86400 detik yang gue jalani hari ini, setidaknya ada 2 peristiwa yang pengen gue ceritain.

Pertama, gue makan di tempat makan yang udah lama banget nggak mampir ke sana (terakhir gue inget pas sd), dan begitu gue makan di sana bersama nyokap, semua serasa seperti dulu, mengingat kembali ke gue yang dulu, rasanya seperti nostalgia, dicampur gurihnya ayam goreng dan pedasnya sambel ulekan yang rasanya nggak pernah berubah sejak terakhir ke sini. Oke ini mulai ngelantur, so nexttt

Setelah lama nggak ketemu pastinya gue dan nyokap bertukar cerita dengan suami-istri pemilik warung makan itu. Ibunya bercerita tentang anaknya di kampung yang akan memasuki jenjang SMP. Lucu ketika waktu terasa begitu cepat, mengingat terakhir gue ngeliat anaknya masih ingusan dan rewel.

Lalu ibu pemilik warung itu bercerita tentang anaknya yang akan pindah bersekolah di sini (red: BSD, TangSel) dari kampungnya di Semarang karena Neneknya yang meninggal. Lalu ibu tadi bercerita tentang bagaimana ibunya meninggal dan ia buru-buru pulang cuma buat menjenguk ibunya.

Dari cerita si ibu, ada yang menarik perhatian gue, di mana sang bapak saat itu sedang sakit dan sang almarhum ibunya baik-baik saja, dan yang tidak di sangka-sangka malah sang ibu yang meninggal terlebih dahulu. Dari situ gue mendapatkan suatu konklusi kalau kematian itu ajaib, datang tak terduga dan siapapun akan mengalaminya.

Peristiwa kedua terjadi saat perjalanan pulang gue dan nyokap dengan motor. Di jalan, gue melihat anak kecil berlari dengan semangatnya memberikan sedekah kepada pengemis yang nggak bisa berjalan meski jauh di belakangnya. Orangtuanya pun menunggu anak itu selesai melakukan tindakan mulianya.

Gue menemukan korelasi antara dua peristiwa yang gue ceritain tadi dan nggak sabar buat gue tulis, bahwa kematian itu datang mengejutkan, seperti pengemis tadi yang mungkin nggak nyangka bahwa akan ada anak kecil yang semangat menghampirinya hanya untuk memberi sedekah.

Kita pun cepat atau lambat akan mati, karena manusia pada dasarnya makhluk yang fana. Oleh karena itu seperti anak kecil tadi, berlarilah sedemikian rupa untuk mencapai tujuan dan berbagilah kepada sesama meski yang kita punya hanyalah nafas dan kesederhanaan ini, sampai akhrinya waktu pun tiba dan kita akan bertatap muka dengan Sang Kuasa.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s